cj.vino akbar from 107.3 Fm E-radio study n fun station

walcome to my blog. to the reader's please menikmati ondition in my blog to your hapyy.

search

Memuat...

5.20.2009

Karya Tulis museum sangiran

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Indonesia banyak memilik kekayaan alam, dan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu tidaklah heran jika terdapat banyak sekali tempat-tempat yang bias dikunjungi untuk dinikmati pemandangan alamnya, kebudayaannya yang dapat juga disebut sebagai objek wisata. Dengan kata lain Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata.

Namun banyak dari objek wisata itu kini diabaikan. Baik perawatan, perlindungan dan hal-hal penting lainnya. Hal itu menyebabkan kerugian yang besar bagi Negara kita sendiri. Pemerintah yang mulai menyadari, kini lebih menggalakkan kemajuan dan kelestarian dari objek-objek tersebut. Dan dewasa ini kita dapat melihat perkembangan pariwisata di negara kita yang cukup memuaskan.

Pemerintahpun berusaha untuk memaksimalkan pendayagunaan daerah-daerah pariwisatayang tentunya dapat menmbah devisa negara kita. Dan diharapkan sector-sektor pariwisata ini dapat memperlihatkan kecantikan alam dan budaya Indonesia di mata rakyatnya sendiri serta di mata dunia Internasional.

Musium Sangiran adalah salah satu museum purbakala yang ada di Indonesia, di museum ini terdapat banyak sisa-sisa peninggalan purbakalaseperti tulang, kerang, tanah dan lain-lain. Para wisatawan yag dating pun beragam mulai dari wisatawan local atau domestik, pelajar, mahasiswa, arkeolog, bahkan wisatawan mancanegara dating kemusium ini sekedar untuk melihat koleksi yang ada bahkan mengamati dan menelitinya.

Sedangkan Pasar Klewer merupakan salah satu pasar warisan budaya yang terletak di dekat keraton Solo. Pasar ini dapat bertahan karena letaknya yang strategis serta barang-barang tekstil yang diseiakan sebagian besar berkualitas baik dengan harga terjangkau. Tak salah jika tempat ini selanjutnya menjadi pusat grosir terkenal di Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah

Musium Sangiran dan Pasar Klewer merupakan salah satu peninggaln budaya yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Mereka sangat mengagumi peninggalan-peninggalan purbakala di Museum Sangiran dan aneka barang-barang tekstil dengan harga murah di Pasar Klewer.

Musium Sangiran dan Pasar Klewer merupakan tempat wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Oleh karena itu, kami akan menjabarkan secara singkat tentang tempat-tempat tersebut.

1.3 Tujuan Karya Tulis

Penulisan karya tulis sebagai langkah lanjut setelah pelaksanaan Kegiatan Karya Wisata Siswa di tempat-tempat tersebut, mempunyai tujan sebagai berikut:

a. Mengenal objek-objek wisata budaya di Indonesia khususnya di museum Sangiran dan Pasar Klewer.

b. Menambah wawasan dan cakrawala pandang tentang daerah-daerah tersebut.

c. Mempertebal jiwa dan semangat cinta tanah air.

d. Mengetahui kebudayaan daerah-daerah tersebut.

e. Mengetahui daerah-daerah tersebut.

1.4 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data-data sebagai bahan karya tulis:

1. Metode Observasi

Metode ini digunakan saat berada di objek-objek wisata tersebut. Perolehan data-data dari peninjauan dan pengamatan kemudian hasilnya dicatat.

2. Metode Wawancara

Pengumpulan data dengan cara ini didapat dari hasil wawancara atau Tanya jawab dengan pemandu wisata atau orang yang dianggap mampu memberikan penjelasan.

3. Metode Internet

Metode yang digunakan adalh dengan mencari sumber-sumber maupun keterangan-keterangan yang terdapat di internet.

BAB II
ISI

2.1 Musium Sangiran

Situs Sangiran merupakan tempat yang tepat untuk melakukan perjalanan kembali ke masa pra sejarah. Banyak hal yang bisa dipelajari di situs ini, antara lain tentang kehidupan di masa lalu dan tentang misteri evolusi makhluk hidup yang sangat menarik untuk diungkap.

Terletak di desa Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo). Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Area ini memiliki luas 48 km² dan terletak di Jawa Tengah, 15 kilometer sebelah utara Surakarta di lembah Sungai Bengawan Solo dan terletak di kaki gunung Lawu. Secara administratif Sangiran terletak di kabupaten Sragen dan kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Pada tahun 1996 situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO. Dalam sidangnya yang ke 20 Komisi Warisan Budaya Dunia di Kota Marida, Mexico tanggal 5 Desember 1996, Sangiran Ditetapkan sebagai salahsatu Warisan Budaya Dunia “World Haritage List” Nomor : 593.

Tahun 1934 antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan fosil dari nenek moyang manusia pertama, Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa"). Ada sekitar 60 lebih fosil lainnya di antaranya fosil Meganthropus palaeojavanicus telah ditemukan di situs tersebut.

Hingga saat ini Sangiran Dome menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun lalu). Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50 % di seluruh dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan.

Sebagai World Heritage List (Warisan Budaya Dunia). Museum ini memiliki fasilitas-fasilitas diantaranya :ruang pameran (fosil manusia, binatang purba), laboratorium, gudang fosil, ruang slide dan kios-kios souvenir khas Sangiran.

Selain itu di museum Sangiran yang terletak di wilayah ini juga dipaparkan sejarah manusia purba sejak sekitar 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu, yaitu dari kala Pliosen akhir hingga akhir Pleistosen tengah. Di museum ini terdapat 13.086 koleksi fosil manusia purba dan merupakan situs manusia purba berdiri tegak yang terlengkap di Asia. Selain itu juga dapat ditemukan fosil hewan bertulang belakang, fosil binatang air, batuan, fosil tumbuhan laut serta alat-alat batu.

keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi Daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan jamannya. Misalnya, Fosil Binatang Laut banyak diketemukan di Lapisan tanah paling bawah, yang dulu merupakan lautan.

Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.

Dome Sangiran” atau Kawasan Sangiran yang memiliki luas wilayah sepanjang bentangan dari utara –selatan sepanjang 9 km. Barat –Timur sepanjang 7 km. Masuk dalam empat kecamatan atau sekitar 59,3 Km2. Temuan Fosil di “Dome Sangiran” di kumpulkan dan disimpan di Museum Sangiran. Temuan Fosil di Sangiran untuk jenis Hominid Purba (diduga sebagai asal evolusi Manusia) ada 50 (Limapuluh) Jenis/Individu. Untuk Fosil-fosil yang diketemukan di Kawasan Sangiran merupakan 50 % dari temuan fosil di Dunia

Koleksi Musium Sangiran

1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus africanus , Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus , Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens .

2. Fosil binatang bertulang belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

3. Fosil binatang air, antara lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera .

4. Batu-batuan , antara lain Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis.

5. Alat-alat batu, antara lain serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-peneta

Bagi ilmuwan yang bergerak dibidang Geologi, anthropologi dan arkeologi Sangiran sangat menarik untuk wisata ilmu pengetahuan. Banyak ahli Geologi, anthropologi dan arkeologi datang ke situs ini untuk melakukan riset dan belajar, diantaranya: Van Es (1939), Duyfyes (1936), Van Bemmelen (1937), Van Koeningswald (1938), Sartono (1960), Suradi (1962) dan Otto Sudarmaji (1976). Van Koeningswald menemukan paling tidak ada lima fosil manusia purba yang berbeda –beda jenisnya yang ditemukan di Sangiran, dan ini sangat mengagumkan.

Tidak ada tempat lain di dunia ini yang kekayaan fosilnya menyamai apalagi melebihi Sangiran. Fosil-fosil yang ditemukan di Sangiran sangat beragam, ada fosil mahluk hidup dari daratan, maupun fosil mahluk hidup dari lautan. Dari hasil temuan ini, ada kemungkinan bahwa pulau Jawa terangkat dari dasar laut jutaan tahun yang lalu.

Pada tahun 1891, Eugene Dubois, ahli antropologi dari Perancis menemukan fosil Pithecanthropus Erectus, manusia purba tertua dari Jawa. Kemudian di tahun 1930 dan 1931, di desa Ngandong, Trinil-Mojokerto, ditemukan juga fosil-fosil manusia purba yang berasal dari jaman Pleistocene. Penemuan-penemuan ini mengungkap sejarah manusia yang hidup berabad-abad yang lalu.

Prof. Dr. Van Koenigswald di tahun 1936 menemukan lebih banyak lagi bukti-bukti yang mendukung teori evolusi manusia. Fosil-fosil yang ditemukannya mendukung teori yang menyatakan bahwa manusia berevolusi dari manusia kera menjadi manusia seperti bentuk saat ini.

Fosil lain yang ditemukan di Sangiran, seperti fosil mammoth (gajah dari jaman pra sejarah) saat ini disimpan di Museum Geologi Bandung. Pada pertengahan tahun 1980 an, penemuan mammoth utuh setinggi 4 meter mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.

Saat ini, penduduk desa disekitar Sangiran banyak yang menjadi pengrajin souvenir dari batu yang dibentuk menyerupai kapak, telur, cincin dan bentuk-bentuk patung lain untuk menarik wisatawan.

Karena kekayaan jenis fosil yang dikandungnya, bumi Sangiran telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia

Akomodasi

Untuk dapat masuk ke sana, setiap orang hanya dikenakan biaya tiket Rp 1.500. Tetapi jika dibandingkan dengan hasil yang akan diperoleh, biaya tiket yang dikeluarkan tidak akan ada artinya. Karena, di museum itu pengunjung bisa melihat dari dekat 13.086 koleksi fosil manusia purba, binatang yang hidup pada masa itu, hingga peralatan yang digunakannya.

Cara Menuju Sangiran

Dengan Pesawat

Dari Bandara Adi Sumarmo (Solo), ambil jalan darat menuju ke Museum Sangiran.

Jalan Darat

• Dari Solo > Kalijambe > Sangiran ( ± 20 km ke arah utara)

• Dari Semarang > Purwodadi > Kalijambe Sangiran

• Dari Surabaya > Sragen > Kalijambe Sangiran

• Dari Yogyakarta > Solo > Kalijambe Sangiran

2.2 Pasar Klewer

A.Selayang pandang

Pasar klewer merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Solo, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini merupakan pusat perbelanjaan kain batik terlengkap, sehingga menjadi tempat rujukan kulakan para pedagang, baik dari Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di pulau Jawa. Selain itu, kain batik di pasar ini juga terkenal dengan harganya yang murah jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan di kota-kota lain di Indonesia. Pasar yang dibangun pada tahun 1970 ini, terdiri dari dua lantai yang cukup luas. Pasar ini menampung sejumlah 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit.

Menurut cerita masyarakat setempat, pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, kawasan ini merupakan tempat pemberhentian kereta api, yang juga digunakan sebagai tempat jualan para pedagang pribumi. Karena dijadikan sebagai tempat jualan itulah kemudian terkenal dengan sebutan Pasar Slompretan. Kata slompretan diambil dari suara kereta api ketika akan berangkat yang mirip dengan tiupan terompet (slompret). Pasar Slompretan ini merupakan tempat para pedagang kecil yang menawarkan barang dagangan berupa kain batik yang ditaruh pada pundaknya sehingga tampak berkeleweran jika dilihat dari kejauhan. Dari barang dagangan (kain batik) yang berkeleweran inilah kemudian pasar ini terkenal dengan nama pasar klewer.

B. Keistimewaan

Bagi Anda pecinta batik, terasa belum lengkap jika belum melihat berbagai macam koleksi batik di Pasar Klewer. Dengan mengunjungi pasar ini, pelancong akan mendapatkan kesan tersendiri yang tak pernah didapatkan di pasar maupun pusat perbelanjaan batik lain pada umumnya. Sebab, di pasar ini koleksi jenis dan motif batiknya lengkap dan harganya pun cukup murah. Pasar ini juga menjadi pusat perbelanjaan kain batik terbesar di seluruh Jawa Tengah. Adapun harga kain batik di pasar ini mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kualitas, motif, dan jenis kain batiknya.

Suasana jual beli di Sentra grosir kain batik ini menyediakan berbagai macam motif dan jenis batik, di antaranya batik tulis motif Solo, batik cap (print), dan motif-motif batik lainnya. Ada juga berbagai jenis batik Surakarta, seperti batik asli Surakarta, batik antik kraton Surakarta, batik pantai kraton Surakarta, daster batik Surakarta, batik saerah Surakarta, batik putri Solo, batik "kelelawar" Surakarta, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam jenis batik Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, Madura, Betawi, dan berbagai jenis batik dari kota-kota lainnya. Di pasar ini juga menyediakan kain batik untuk baju, sprei, sarung bantal, dan segala aksesoris-aksesoris lain yang berbau batik.

Saat membeli kain batik di pasar ini, setiap pengunjung disarankan untuk menawarnya terlebih dahulu. Jika pengunjung pandai menawar, harga yang diajukan penjual akan berkurang. Kesesuaian kualitas dengan harga mungkin juga menjadi patokan bagi penjual dalam menawarkan dagangannya. Menurut pengakuan para pembeli, berbelanja di pasar ini pasti tidak akan mengecewakan, sebab di samping harganya yang terjangkau, keramahan para penjual juga membuat para pembeli merasa nyaman.

Selain terkenal dengan pusatnya batik, pasar yang di dalamnya terdapat 2.064 unit kios ini juga menyediakan aneka macam barang-barang kebutuhan lainnya, di antaranya pakaian non batik, makanan, kerajinan, pernak-pernik, barang-barang elektronik, emas, peralatan dapur, dan masih banyak lagi. Selain itu, terdapat juga kerajinan-kerajinan khas masyarakat Solo yang berkualitas ekspor, di antaranya cermin kayu ukir, kaca ukir, dan berbagai macam suvenir yang berbahan dasar kaca.

Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, bangunan Pasar Klewer terdiri dari dua lantai yang dihubungkan dengan tangga yang cukup luas. Dengan tangga yang seperti ini, suasana berdesak-desakan para pengunjung antarlantai dapat terhindarkan. Keistimewaan lainnya ialah letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta. Sehingga selain berbelanja, pelancong dapat juga menengok keindahan keraton itu.

Pengunjung juga dapat berkunjung ke pabrik batik tulis yang berada di Kampung Kauman dan Kampung Batik Laweyan yang berjarak sekitar 5 km dari pasar ini. Di tempat tersebut, wisatawan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik, mulai dari pembuatan pola sampai dengan proses pewarnaannya. Di samping melihat tempat produksinya, di kampung ini juga tersedia kios-kios pakaian batik yang siap pakai.

Keistimewaan lainnya, sebelum membeli kain batik pelancong juga dapat memesan atau berkonsultasi melalui fasilitas internet. Para pedagang kain batik di pasar ini sebagian sudah menggunakan media transaksi via internet atau sistem online. Sehingga pelancong dapat memilih dan memesan terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi pasar ini.

Selain berbelanja, pengunjung juga sekaligus dapat berwisata melihat situs sejarah seperti Keraton Surakarta, Masjid Agung, Alun-alun Utara, dan situs sejarah lainnya. Pengunjung juga dapat melihat acara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta, yaitu sekaten. Dalam acara ini terdapat berbagai macam pentas kesenian, pertunjukan kebudayaan, dan pasar tiban (pasar malam) yang digelar di alun-alun utara tersebut, tepatnya di sebelah utara Pasar Klewer.

C. Lokasi

Pasar Klewer terletak di sebelah barat Keraton Surakarta, Kota Surakarta, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses

Untuk menuju lokasi Pasar Klewer perjalanan dapat dimulai dari Terminal Tirtonadi. Dari terminal ini, wisatawan dapat naik angkutan kota atau taksi menuju lokasi pasar. Perjalanan dari Terminal Tirtonadi sampai ke Pasar Klewer biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

E. Harga Tiket

Memasuki kawasan Pasar Klewer pelancong tidak dipungut biaya. Namun, bagi wisatawan yang membawa kendaraan pribadi dikenai biaya parkir.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar kawasan Pasar Klewer ini terdapat berbagai macam fasilitas, di antaranya area parkir, masjid, pusat informasi belanja, studio karaoke, kamar mandi, dan beberapa kios masakan khas Solo, yaitu thengkleng, racikan salat, krupuk karak, timlo Solo, sayur tumpang, dan lain-lain.

Banyak wisatawan asing yang berkunjung di kota Solo untuk melihat-lihat batik yang ada di pasar klewer. Pasar klewer adalah salah satu pasar yang cukup terkenal di indonesia, sebab pasar klewer termasuk sebuah sentra bisnis grosir dengan harga yang cukup murah, sering kali hasil kerajinan daerah disekitar solo masuk ke pasar klewer yang kemudian akan dipasarkan hingga ke luar negeri. Yang dijual di pasar klewer antara lain baju batik, makanan ringan, dan hasil kerajinan tangan seperti tembikar. Pasar klewer terletak sangat dekat dengan kraton solo, sehingga beberapa bagian dari pasar ini masih sangat kuno. Setiap harinya pasar klewer tidak pernah sepi dikunjungi pedagang baik yang berasal dari dalam kota solo sendiri, tetapi dari luar kota solo, bahkan tidak jarang ada pedagang dari luar pulau jawa datang ke pasar ini untuk berkulakan. Hanya sangat disayangkan pasar klewer ini kurang tertata dan terpelihara dengan baik, tampak banyak sampah bertumpuk pada sudut-sudut pasar, dan juga keamananya agak kurang terjamin, karena sangat sering terjadi pencopetan penjambretan dan bahkan penodongan yang mungkin saja dilakukan oleh masyarakat sekitar yang memang agak kurang mampu.

Pasar Klewer merupakan pusat pasar dimana sebagian besar aktivitas warga Solo berpusat disana. Dari pakaian atau tekstil yang mendominasi, makanan, sampai ke pernak pernik perhiasan dijual disana. Letaknya berdekatan dengan Keraton Solo dan alun-alun, sehingga hampir setiap hari daerah ini tak pernah sepi dari hiruk pikuknya jalan.

Semenjak dibangun pada 1970, perkembangan Pasar Klewer Solo bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Melesat untuk kemudian menjadi pasar tekstil yang besar. Bahkan, mungkin salah satu yang terbesar di Indonesia.Karena itu tak mengherankan bila kini, menurut data dari Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) dan Dinas Pasar Klewer, jumlah pedagang di pasar tersebut adalah 1.467 pedagang. Hebatnya lagi, dari jumlah pedagang sebanyak itu, uang yang berputar setiap harinya (transaksi berjalan) Rp 5 miliar - Rp 6 miliar.

Sementara per tahunnya, pasar tersebut menghasilkan pendapatan dari retribusi Rp 3 miliar. Jumlah yang cukup besar, karena jika dikalkulasi, jumlah pendapatan retribusi itu telah memenuhi hampir 5% RAPBD Kota Surakarta 2004 dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 53.546.938.996.Bukan hanya itu, selain mendukung perekonomian daerah, keterkenalan Klewer sebagai pusat perdagangan tekstil juga turut mendukung dunia pariwisata di Kota Solo. Terbukti, sampai sekarang pasar tersebut sering dijadikan alternatif untuk kunjungan para wisatawan.

PROFIL PASAR KLEWER

Menyebut Pasar Klewer orang akan cepat menangkap Solo, dan sebaliknya bicara kota Solo orang akan selalu menanyakan pasar Klewer, sehingga jelas disini ada semacam korelasi yang tidak dapat dipisahkan antara kota Solo dan Pasar Klewer. Dilihat dari kultur budaya, Klewer merupakan aset budaya. Pasar Klewer memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dari pasar tradisional lainnya, yaitu dilihat dari sejarah “nama” dan letaknya yang dekat dengan Kraton Surakarta. Meskipun saat ini sudah banyak bermunculan supermarket maupun mall yang berskala internasional, namun Pasar Klewer tetap menjadi andalan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, baik dalam hal retribusi pasar maupun rotasi dalam hal peredaran uang. Pasar Klewer merupakan pembayar retribusi tertinggi dari 38 pasar yang ada di kota Solo, pasar Klewer memberikan kontribusi ke Pemkot sebesar 2,7 juta per tahun. Pasar Klewer mampu meraup omzet kurang lebih sebesar tiga milyard per hari, sehingga tidak kurang dari 12 perbankan dan koperasi menancapkan akarnya di pasar Klewer.

Sejarah Berdirinya Pasar Klewer

Pasar Klewer dirintis sejak jaman penjajahan Jepang, dimana kehidupan warga Surakarta banyak mengalami kesulitan. Berawal dari kehidupan yang serba sulit ini kemudian sejumlah orang berinisiatif untuk berjualan pakaian dan kain. Waktu itu lokasinya terletak disebelah timur pasar Legi atau kawasan kantor air minum dan pasar Burung.

Sejumlah orang ini menjajakan pakaian dan kain dengan cara menggantungkannya dipundak, dan berjalan hilir mudik dilingkungan tersebut, yang tentu saja barang dagangannya menjuntai kebawah tidak beraturan atau istilah orang jawa “kleweran”. Berhubung komunitas tersebut belum punya nama, maka disebutlah pasar Klewer. Pemerintah saat itu menilai bahwa lokasi seputar pasar Klewer jorok dan kotor, maka lokasi pasar dipindah disebelah selatan Masjid Agung, atau disebelah barat gapura Kraton Kasunanan Surakarta, menyatu dengan pasar Slompretan yang sudah ada sebelumnya.

Sekitar tahun 1957-1958 pasar Klewer diperluas ke barat, dengan memindahkan pasar sepeda ke alun-alun selatan dan pasar burung dipindah ke Widuran, karena lokasi ini akan digunakan untuk berjualan tenun dan batik. Pada tahun1969 kondisi pasar sudah tidak memenuhi persyaratan ekonomis, kesehatan, dan perkembangan kemajuan pembangunan. Pemerintah kemudian merenovasi pasar hingga mencapai bentuk seperti yang sekarang ini, dengan pelaksana PT. Sahid yang bermitra dengan Bank Bumi Daya. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soeharto pada 7 Juni 1971dengan nama tetap Pasar Klewer.

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, keberadaan pasar Klewer semakin dikenal sebagai pust tekstil di Jawa Tengah. Hal ini mengakibatkan orang dari berbagai penjuru daerah, tidak hanya dari pulau Jawa tetapi juga dari Sumatra, Lombok, Kalimantan berdatangan ke Solo untuk mencari barang dagangan.

Melihat keadaan pasar Klewer yang berkembang sangat pesat, akibatnya memancing animo pedagang untuk berjualan dilingkungan pasar Klewer, sehingga keberadaannya sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas dan menganggu pedagang yang mempunyai Surat Ijin Penempatan (SIP). Untuk mengatasi hal tersebut oleh Pemkot Solo waktu itu R. Hartomo pada tahun 1985 membangun pasar Klewer Timur yang letaknya berhimpitan dengan pasar Klewer lama, peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah H.M Ismail pada 17 Desember 1986.

Geografis

Pasar Klewer terletak di kelurahan Gajahan, kecamatan Pasar Kliwon, tepatnya di sebelah selatan masjid agung atau di sebelah Barat Gapura Kraton Kasunanan Surakarta. Luas pasar Klewer barat kurang lebih 135 X 65 meter, yang terdiri dari dua lantai ditambah dengan pasar Klewer timur kurang lebih seluas 85 X 65 m. Terdapat 2064 toko/kios/los yang dihuni oleh kurang lebih 1755 pedagang (resmi).

SDM

Pasar Klewer dapat merupakan lahan untuk mencari rejeki yaitu antara lain para pedagang buruh, tukang gledek, tukang becak, PKL, supir angkot bahkan pengamen dan juga pencopet.

Terdapat kurang lebih 1755 pedagang yang resmi ( memiliki SIP ). Jumlah pedagang ini belum termasuk pedagang kaki lima atau oprokan. Di pasar Klewer terdapat paguyuban bagi para pedagang , yaitu Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK), yang diketuai oleh Bapak Hafidz.

Keberadaan Pedagang Kaki Lima (PKL)

Keberadaan Pasar Klewer sebagai pusat bursa tekstil dan sandang terbesar di Jawa Tengah merupakan asset dan potensi ekonomi milik kota Solo yang harus dipertahankan keberadannya dan dikembangkan potensinya, Sesuai dengan misi dan visi kota Solo yaitu kota budaya, pariwisata, dan perdagangan, pasar Klewerlah salah satu alternatifnya.

Keberadaan pasar Klewer diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan Pemkot dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) di era Otonomi Daerah (Otda) seperti sekarang ini. Namun saat ini ciri khas dari pasar Klewer mulai melenceng, sehingga pasar Klewer tidak ada bedanya dengan pasar tradisional yang lain. Kondisi pasar Klewer saat ini hanya memperlihatkan fungsi ekonominya saja, sedangkan fungsi sebagai warisan budaya semakin tenggelam

Sejak krisis ekonomi tahun 1998 melanda Indonesia banyak anggota masyarakat yang kehilangan pekerjaan yang kemudian beralih menjadi wiraswasta, yaitu dengan menjadi pedagang kaki lima di pasar Klewer. Akibatnya jumlah pedagang kaki lima semakin hari semakin bertambah banyak, tidak hanya berada pada emperan toko, tapi juga sampai menjorok ke lorong-lorong jalan, lorong-lorong tangga bahkan tangga yang digunakan untuk ke lantai dua pun sudah dipenuhi oleh PKL. Hal ini sangat mengganggu kenyamanan para pengunjung, karena sering menimbulkan keruwetan dan ketidakteraturan, untuk bisa maju kedepan saja terkadang harus jalan satu persatu dan itu pun harus pelan-pelan saking penuhnya, juga menyulitkan kuli pengangkut barang yang memakai gledek.

Keberadaan PKL di pasar Klewer ini juga mengganggu para pedagang atau pemilik kios, para pelanggan mereka sering mengeluh karena merasa tidak nyaman dan kesulitan jika membawa barang. Disamping itu pendapatan para PKL ini hampir menyaingi atau bahkan melebihi dari pedagang yang memiliki SIP, padahal dari segi pengeluaran tidak sebanding karena para PKL tidak dibebani membeli kios atau sewa kios, retribusi bulanan, PBB, dll. Apabila hal ini dibiarkan tentu akan menciptakan persaingan yang tidak sehat yang dapat memunculkan konflik dikalangan pelaku pasar, bahkan yang lebih ironi lagi akan mematikan usaha salah satu pihak yang benar (yang mempunyai SIP).

Luas pasar yang relatif tetap dan tidak bertambah dibanding jumlah orang dan barang dipasar yang semakin bertambah mengakibatkan tingkat kepadatan semakin meningkat, akibatnya terjadi penyempitan ruang, dan menimbulkan berbagai masalah seperti konflik antar kelompok, kejahatan, kemacetan dan lain-lain.

Pihak eksekutif dan beberapa anggota legislatif dalam menanggapi masalah kepadatan (overload) pasar Klewer, tiba-tiba memunculkan wacana-wacana yang dirasa kurang dapat diterima oleh para pedagang, dalam hal ini Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) kurang sependapat dengan wacana-wacana tersebut, karena menurut HPPK bahwa overloadnya pasar Klewer bukan karena pedagang resmi, tetapi populasi pedagang tidak resmi yang semakin hari semakin bertambah. Bahkan HPPK menuduh Pemkot dan dinas pasar main mata dengan pedagang tidak resmi. Sementara pedagang tidak resmi, tidak merasa keberatan dengan wacana tersebut, mereka justru menantang Pemkot untuk segera merealisasikan wacana tersebut.

Menurunnya Omset Penjualan

Dengan tidak tertatanya pasar Klewer seperti sekarang ini, yang ditandai dengan lokasii pasar yang jorok, kumuh, sumpek, dan semrawut menjadikan pasara Klewer tidak nyaman bagi pengunjungnya yang kebanyakan dari luar kota, akibatnya para pengunjung banyak yang mengeluh bila masuk ke pasar Klewer. Perlu kita ketahui bahwa 80 prosen barang dagangan konveksi yang ada di pasar Klewer adalah produksi dari luar kota, dan kota-kota yang memproduksi barang-barang konveksi tersebut sudah mulai membangun pasar sendiri yang keadaannya jauh lebih nyaman, akibatnya para pembeli dalam jumlauh besar (grosir akan lebih senang bila belanja langsung ke kota yang memproduksi barang-barang tersebut, sehingga pasar Klewer hanya kebagian pembeli retail (eceran), itupun bagi pelancong memilih membeli pada pedagang kaki lima kerna enggan masuk ke dalam pasar Klewer.

Konflik Kepentingan

Kehadiran para PKL dianggap mengganggu wilayah kekuasaan pedagang resmi atau pemilik SIP, karena kehadiran PKL mengandung arti sebagai perebutan tempat berdagang. Pedagang pemilik SIP bereaksi terhadap kehadiran PKL yang masuk ke dalam ruang yang dirasa dimiliki oleh pedagang resmi. Reaksi ini terjadi karena pedagang resmi mengintepretasikan situasi dan motif PKL yang tidak resmi dianggap tidak akan membawa keuntungan bagi pedagang kaki lima atau mengurangi keuntungan para pedagang resmi karena pesaingnya bertambah.

Pemanfaatan dan penggunaan aspek ruang merupakan hal yang penting bagi sukses tidaknya barang dagangan yang ditawarkan pada pembeli. Pedagang resmi merasa mempunyai hak milik atas ruang yang ada didalam pasar. Ruang yang semakin lama semakin sempit dengan keberadaan pedagang tidak resmi tentu saja menjadikan tidak adanya keleluasaan bagi pedagang resmi untuk menempatkan barang dagangannya dan menawarkan pada para pembeli.

Selain itu sering terjadi persaingan harga yang sangat mencolok antar pedagang yang terkadang tidak masuk akal, karena tidak ada standar harga yang mengatur para pedagang dalam menjual barang dagangannya, padahal hampir semua pedagang di pasar Klewer menjual produk yang sama sesuai dengan jenis dagangannya. Akibatnya penjual yang menjual barang dagangannya dengan harga yang paling murah, maka dialah yang akan laku. Hal ini mereka lakukan untuk menutup biaya produksi dalam menghasilkan barang dagangannya atau sering disebut dengan kembali modal.

Dengan situasi dan kondisi pasar Klewer yang seperti ini bagaimana mungkin dapat mencapai kemajuan seperti yang kita harapkan. Untuk mengembalikan fungsi pasar Klewer tidak hanya sebagai pusat ekonomi kota Solo tapi juga menjadikannya sebagai aset kebudayaan serta mengembalikan kenyamanan dan keteraturan letak pedagang diperlukan kerjasama semua pihak, baik pedagang resmi, pedagang tidak resmi, dinas pasar, pemerintah kota, dan juga masyarakat kota Solo itu sendiri.

Jenis Dagangan

Jenis dagangan di pasar Klewer yang terutama adalah konveksi. Hal ini sejalan dengan adanya citra pasar Klewer sebagai pasar Konveksi terbesar di Jawa Tengah. Selain konveksi, di pasar Klewer juga tersedia jajanan dan oleh-oleh khas Solo, serta buah-buahan.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

a. Melalui kegiatan karya wisata, siswa dapat menumbuhkan wawasan dan cakrawala pandang melalui objek wisata yang dituju.

b. Mengenal dan mengetahui objek wisata di wilayah Nusantara.

c. Mempertebal jiwa dan semangat cinta tanah air.

3.2 Pesan dan Kesan

Bagi kami putra dan putrid Indonesia memiliki cagar budaya seperti museum sangiran dan pasar klewer merupakan suatu anugrah yang sangatlah berharga. Kami sangat bersyukur atas karunia tersebut.

1. Pesan

Museum Sangiran dan pasar klewer merupakan salah satu cagar budaya yan g kita miliki, maka hendaknya kita menjaga dan melestarikannya. Agar senantiasa trjaga keasliannya dan menjadi asset pariwisata yang memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat Indonesia pada khususya.

2. Kesan

Mengetahui kebudayaan zaman dahulu yang sangat beragam dan menarik untuk diketahui lebih dalam.

3.3 Saran

a. Sebaiknya tempat-tempat wisata tersebut lebih dikembangkan sarana dan prasarananya. Agar lebih menimbulkan daya tarik bagi para pengunjung.

b. Memperbanyak tempat-tempat wisata yang dapat dikunjungi.

c. Sebaiknya lebih ada pengaturan waktu.

Daftar Pustaka

www.Google

Sangiran.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

taburkan inspirasi kita di fasilitas internet.
inilah perubahan zaman yng patut kita kembangkan. dengan internet kita bisa menuangkan ilmu kita yang pernah kita tau dan pahami dengan tidak memperhatikan setatus anda.

apa yang telah anda lakukan untuk hidup anda selanjutnya?

Pengikut